Berbagai Pihak Didorong Bersinergi Perkuat Pemberantasan Korupsi

Baca Juga

Oleh: Narasoma Widjaya

Komitmen memperkuat pemberantasan korupsi kembali ditegaskan melalui sinergi lintas lembaga yang melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Mahkamah Agung (MA), DPR RI, hingga pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat integritas aparat penegak hukum sekaligusmeningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi negara di tengah tuntutan masyarakat akanpemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, serta nepotisme.

KPK bersama Mahkamah Agung kembali memperkuat kolaborasi melalui program PelatihanPenguatan Integritas dan Antikorupsi Mahkamah Agung atau PRISMA bagi pimpinanpengadilan di lingkungan MA RI. Program itu menjadi bagian dari upaya memperkuat bentengmoral aparat peradilan agar terhindar dari praktik transaksional dan penyalahgunaankewenangan. 

Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam membangun sistem penegakan hukum yang dipercaya masyarakat. Menurutnya, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan, tetapi juga harus diperkuatmelalui pendidikan dan langkah pencegahan yang berjalan beriringan. KPK, kata Ibnu Basuki Widodo, terus mengoptimalkan trisula pemberantasan korupsi yang meliputi pendidikan, pencegahan, dan penindakan untuk menjaga tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional.

Ia menilai penguatan integritas aparatur peradilan menjadi kebutuhan mendesak demi menjagaindependensi lembaga hukum. Mahkamah Agung sebagai pengadilan tertinggi harus bebas daripengaruh kepentingan tertentu sehingga kualitas moral dan profesionalisme aparat peradilanmenjadi elemen penting dalam menjaga marwah hukum dan demokrasi.

Menurut Ibnu Basuki Widodo, tantangan integritas aparat penegak hukum semakin kompleks. Integritas tidak hanya dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga harus tercermindalam keselarasan antara pikiran, sikap, dan tindakan yang berpijak pada nilai moral dan kemanusiaan. Melalui pelatihan PRISMA, KPK ingin memastikan nilai-nilai antikorupsi benar-benar menjadi budaya kerja di lingkungan peradilan.

Data penindakan KPK sepanjang 2004 hingga 2025 menunjukkan masih besarnya tantangan di sektor hukum. Sebanyak 31 hakim tercatat terjerat kasus korupsi dari total 1.951 perkaraberdasarkan klasifikasi profesi pelaku. Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm bahwa reformasi sektor peradilan harus menyentuh akar persoalan, yakni lemahnya integritas sebagian aparatpenegak hukum.

Wakil Ketua Mahkamah Agung Bidang Non Yudisial Dwiarso Budi Santiarto menilai reformasi peradilan tidak akan berjalan efektif tanpa penguatan integritas aparat di dalamnya. Menurutnya, hakim dan aparatur peradilan tidak cukup hanya memahami hukum secara normatif, tetapi juga harus menjaga etika profesi dan independensi dalam setiap pengambilan keputusan. MahkamahAgung pun terus memperkuat pengawasan internal melalui Badan Pengawasan MA gunamenjaga marwah lembaga peradilan.

Berdasarkan data Badan Pengawasan MA periode Januari hingga April 2026, sejumlah hakim telah dijatuhi sanksi disiplin dengan tingkat pelanggaran yang beragam. Penegakan disiplintersebut dinilai menjadi bukti bahwa reformasi integritas di tubuh peradilan terus dijalankansecara konsisten demi menciptakan lembaga peradilan yang profesional dan akuntabel.

Dwiarso Budi Santiarto juga menegaskan bahwa penguatan integritas harus berjalan seiringdengan internalisasi tujuh nilai utama Mahkamah Agung, yakni kemandirian, integritas, kejujuran, akuntabilitas, responsibilitas, keterbukaan, dan perlakuan setara di hadapan hukum. Nilai-nilai tersebut dianggap penting untuk memperkuat profesionalisme aparat peradilansekaligus memastikan pelayanan hukum yang adil dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dukungan terhadap penguatan pemberantasan korupsi juga datang dari DPR RI. Anggota KomisiIII DPR RI Abdullah menyatakan dukungannya terhadap langkah tegas pemerintah dalammenindak aparat negara yang melakukan pelanggaran hukum. Ia menilai komitmen PresidenPrabowo Subianto dalam menciptakan pemerintahan yang bersih harus diikuti denganpengawasan ketat terhadap personel TNI, Polri, maupun aparatur sipil negara.

Abdullah menilai pengawasan eksternal sangat penting karena berbagai kasus penyalahgunaankewenangan sering kali sulit terdeteksi melalui mekanisme internal lembaga. Banyak kasuspelanggaran justru terbongkar setelah mendapat sorotan publik dan media. Karena itu, iameminta KPK dan Ombudsman memperketat pengawasan guna mencegah praktik korupsi sertaberbagai bentuk penyelewengan lain di lingkungan birokrasi dan aparat negara.

Selain itu, Abdullah juga menyoroti lemahnya pengawasan internal di sejumlah kementerian dan lembaga. Ia menilai budaya saling melindungi antaroknum masih menjadi hambatan seriusdalam reformasi birokrasi. Menurutnya, reformasi harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan dengan menjadikan sistem merit sebagai prinsip utama dalam pengangkatan, promosi, dan penempatan jabatan.

Ia juga mendorong percepatan mekanisme penindakan dan pemecatan terhadap aparat maupunbirokrat yang terbukti melanggar hukum. Reformasi birokrasi, menurut Abdullah, membutuhkanlingkungan kerja yang sehat dan profesional agar pelayanan publik berjalan maksimal dan masyarakat mendapatkan pelayanan yang adil serta berkualitas.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah selama setahun terakhir dinilai telahmenunjukkan sejumlah capaian dalam penguatan tata kelola pemerintahan dan reformasi birokrasi. Pemerintah terus mendorong digitalisasi pelayanan publik, memperkuat transparansisistem perizinan, meningkatkan pengawasan anggaran, serta memperkuat koordinasiantarpenegak hukum dalam penanganan kasus korupsi. Komitmen Presiden Prabowo Subiantodalam menegaskan pentingnya pemerintahan yang efektif dan bersih juga dinilai menjadi sinyalkuat bahwa agenda pemberantasan korupsi tetap menjadi prioritas nasional.

Sinergi antara KPK, Mahkamah Agung, DPR RI, dan pemerintah pusat dinilai menjadi langkahpenting dalam memperkuat pemberantasan korupsi di Indonesia. Penguatan integritas, reformasi birokrasi, pengawasan ketat, dan penegakan hukum yang tegas harus berjalan bersama agar tercipta sistem pemerintahan yang bersih, profesional, dan dipercaya masyarakat. Karena itu, seluruh elemen bangsa diharapkan terus mendukung budaya antikorupsi demi mewujudkanIndonesia yang transparan, adil, dan berintegritas.

*) Peneliti Isu Hukum dan Pemberantasan Korupsi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkelanjutan untuk Memperkuat Program MBG Nasional

Oleh: Rivka Mayangsari*)Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam memastikan keberhasilan Program MakanBergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu program strategis nasional yang berfokus padapeningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di tengah pelaksanaan program berskalabesar yang menjangkau puluhan juta masyarakat setiap hari, pemerintah menegaskan bahwaevaluasi dan pembenahan berkelanjutan menjadi kunci utama agar manfaat program benar-benardirasakan secara optimal oleh masyarakat.Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berorientasi padaperluasan cakupan program, tetapi juga pada peningkatan kualitas pelaksanaannya di lapangan. Menurut Presiden, keberhasilan program MBG tidak dapat diukur semata dari jumlah penerimamanfaat, melainkan juga dari ketepatan sasaran, kualitas pelayanan, serta transparansi dalampengelolaannya.Saat ini, program MBG telah menjangkau sekitar 62,4 juta penerima manfaat setiap hari. Jumlahtersebut menunjukkan skala besar komitmen negara dalam memberikan perlindungan sosial danpemenuhan gizi masyarakat. Cakupan program meliputi berbagai kelompok rentan yang selamaini membutuhkan perhatian khusus dari negara, mulai dari 6,3 juta balita, 2 juta ibu menyusui, hingga 868 ribu ibu hamil.Tidak berhenti di situ, pemerintah juga berencana memperluas program bantuan pangan tersebutkepada sekitar setengah juta warga lanjut usia yang hidup tanpa pendamping. Langkah inimenunjukkan bahwa negara hadir untuk memastikan kelompok paling rentan tetap mendapatkanperlindungan dan akses terhadap kebutuhan gizi yang layak.Dalam pelaksanaannya, Presiden Prabowo secara terbuka mengakui adanya dinamika dankekurangan di lapangan. Sikap terbuka tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah tidak menutupmata terhadap berbagai persoalan yang muncul selama implementasi program. Sebaliknya, pemerintah memilih melakukan evaluasi secara agresif agar setiap kelemahan dapat segeradiperbaiki.Sebagai bentuk ketegasan, pemerintah telah menghentikan operasional ribuan unit penyedialayanan yang dinilai tidak memenuhi standar kualitas. Langkah ini memperlihatkan bahwapemerintah tidak mentoleransi penyimpangan ataupun kelalaian yang dapat merugikanmasyarakat. Program yang menyangkut kebutuhan dasar rakyat harus dijalankan dengan standartinggi dan pengawasan ketat.Presiden juga mengajak seluruh elemen pengawas, termasuk legislatif dan kepala daerah, untukterlibat aktif dalam mengawal jalannya program MBG. Menurutnya, keberhasilan program nasional tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah pusat, melainkan membutuhkan sinergiseluruh pihak agar pengawasan berjalan efektif dan transparan.Langkah evaluasi yang dilakukan pemerintah mencerminkan keseriusan dalam menjagaakuntabilitas program perlindungan sosial. Pemerintah ingin memastikan amanat konstitusiterkait perlindungan masyarakat miskin benar-benar terlaksana secara nyata dan tepat sasaran. Transparansi dan pengawasan menjadi fondasi penting agar kepercayaan masyarakat terhadapprogram pemerintah tetap terjaga.Komitmen penguatan program MBG juga terlihat dari langkah aktif Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, yang memanggil Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, untuk membahas pembenahan Badan Gizi Nasional (BGN) dan pelaksanaan program MBG. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah terus melakukan koordinasi lintas lembaga guna memastikan program berjalan lebih efektif.Dalam pembahasan tersebut, Gibran menyoroti pentingnya pembenahan internal di tubuh BGN agar pelaksanaan program semakin profesional dan terukur. Pemerintah menyadari bahwaprogram berskala nasional memerlukan sistem manajemen yang kuat serta sumber daya manusiayang kompeten agar implementasinya berjalan optimal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini