MINEWS, JAKARTA – Tepat 9 Mei 1996, atau 23 tahun yang lalu, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI mengklaim keberhasilan membebaskan sandera Tim Ekspedisi Lorentz di Papua. Pembebasan sandera itu dikenal dengan Operasi Mapenduma yang dipimpin Prabowo Subianto.

Namun banyak ‘borok’ yang terjadi dalam Operasi Mapenduma. Mulai dari tewasnya dua dari 26 sandera tewas, yakni Yosias Lasamahu dan Navy Panekanan. Mereka terbunuh di tengah hutan dengan luka bacokan di tubuh. Kematian dua sandera ini belum diketahui persis siapa pelakunya.

Kematian dua sandera ini menambah jumlah korban tewas Operasi Mapenduma, di mana sebelumnya 16 orang pun ikut tewas akibat aksi koboi sniper Kopassus Letnan Sanurip, pada 15 April 1996 di lapangan terbang Timika.

Sanurip pun akhirnya ikut tewas bunuh diri di dalam sel. Kisah aneh Sanurip itu mengawali keganjilan dalam operasi pembebasan sandera di Mapenduma. (Baca juga: Sanurip dibunuh atau bunuh diri?)

Korban pun kembali berjatuhan. Sebuah helikopter yang membawa pasukan Kopassus mengalami kecelakaan fatal. Heli naas yang diterbangkan Lettu CPN Agus Riyanto dan Lettu CPN Tukiman jatuh terjerembab. Ekornya menghantam pohon dan terbalik.

Menurut sandera yang selamat, Markus Warib, heli TNI AU jenis Bolco sedang mencari-cari tanah lapang untuk menurunkan pasukan, namun diberondong gerilyawan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Alhasil, sebanyak 12 penumpang menjadi korban.

Lima orang tewas dan sisanya mengalami luka-luka. Korban yang meninggal, Kapten Penerbang Agus (pilot), Sertu Parlan (AU), dan tiga prajurit Kopassus yakni, Lettu Umar, Serda Pitoyo, dan Pratu Sudiono.

Kejanggalan berikutnya, kata Markus, sandera yang gagal diselamatkan. Selama disandera, kata Markus, para penyandera telah bersumpah untuk tidak menghilangkan nyawa para sandera.

“Sebab menghilangkan nyawa berarti harga yang harus dibayar mahal atas kritikan dan hilangnya simpati dunia terhadap perjuangan OPM,” kata Markus Warib kepada Decki Natalis Pigay dalam wawancara yang termuat di Evolusi Nasionalisme dan Sejarah Konflik di Papua.

Sementara menurut Letkol I Nyoman Cantiyasa, komandan Tim Kilat II Kopassus yang terlibat dalam operasi, kedua sandera itu berusaha menyelamatkan diri ketika terjadi baku tembak antara gerombolan OPM dan pasukan penjejak Kopassus dari Tim Kasuari I. Untuk menutup ruang gerak OPM, pasukan penyerbu Tim Kilat Kopassus meminta bantuan tim penutup Pandawa dari Kostrad untuk menghadang gerombolan. Baku tembak terjadi cukup ramai

“Beberapa anggota gerombolan penyandera tewas tertembak dan sebagian melarikan diri, Dua orang sandera tewas dibacok dan yang lain luka-luka ketika mencoba kabur,” kata Nyoman dalam “Pembebasan Tim Lorentz di di Mapenduma” termuat di Kopassus untuk Indonesia suntingan Iwan Santosa dan E.A. Natanegara.

Operasi Mapenduma juga menyisakan pertanyaan apakah ada keterlibatan pasukan asing. Beredar kabar, operasi ini melibatkan pasukan komando Kerajaan Inggris, Special Air Service (SAS) dan para serdadu bayaran dari perusahaan keamanan ternama Executive Outcomes (EO).

EO merupakan perusahaan yang berpengalaman dalam operasi intelijen anti-teror diduga ikut serta dalam operasi. Decki Natalis Pigay menulis, CEO Commander EO, Nick van den Bergh mengakui bahwa timnya yang beranggotakan lima orang telah diterjunkan untuk mengatasi krisis di Irian Jaya.

Informasi itu diperkuat laporan Jawa Pos, Juli 1997 yang mengutip keterangan seorang sandera bernama Daniel Start. Kesaksian itu menyebutkan, para anggota OPM yang tewas tidak lain merupakan korban dari pasukan SAS dan EO yang menyamar sebagai petugas International Red Cross (Palang Merah Internasional). Namun yang umum tersiar ke publik adalah keberhasilan pasukan Kopassus yang dipimpin Prabowo.

“Upaya pembebasan ini menjadi misteri,” kata Pigay.

Senada, jurnalis sejarah militer Iwan Santosa menyebut keterlibatan pemerintah Inggris bukanlah suatu hal yang mustahil mengingat begitu sibuknya kedutaan besar mereka di Jakarta saat itu. Saat kejadian atase militer Kedutaan Besar Inggris di Jakarta Kolonel Ivan Helberg (yang merupakan alumni SAS) langsung turun didampingi oleh tiga anggota Unit Negosiasi Penyaderaan (HNU) dari Kepolisian Inggris serta sejumlah anggota SAS.

Mengenai kehadiran tentara bayaran itu pun adalah sebuah keniscayaan. Karena saat itu salah satu perusahaan kemanan terkemuka di dunia tersebut tengah memiliki “proyek” di Papua Nugini.

Mereka, disebutkan tengah terlibat kontrak kerja dengan pemerintahan Perdana Menteri Julius Chan untuk menghadapi pemberontak Tentara Revolusiener Bougainville yang secara sepihak menyegel sekaligus menutup tambang emas Bougainville “milik” Rio Tinto (pemilik sebagian besar Freeport McMoran).

“Kalaupun ada personil EO yang terlibat di Mapenduma bisa saja, karena saat itu EO lagi ada di Papua Nugini guna menangani para pemberontak di Bougainville” ujar Iwan.

Bahkan pernyataan Iwan pun diamini paparan Pacific Journalism Review (edisi Januari 2000). Dalam jurnal itu, Peter Cronau menyebutkan bahwa sejumlah instruktur tempur berpengalaman dari EO digunakan jasanya oleh Kopassus.

Tak hanya berperan sebagai penasehat militer, mereka ikut terjun langsung dalam operasi penyerbuan di Desa Geselema, Mapenduma. Salah satu helikopter yang terlibat dalam serangan terhadap Geselema terlihat membawa tanda Palang Merah sambil membawa para prajurit Kopassus dan sejumlah tentara berkulit putih.

Soal kehadiran “serdadu bule” dalam helikopter berwarna putih ini dikonfirmasi dalam program Mark Davis’s Four Corners di ABC TV yang kali pertama ditayangkan pada 12 Juli 1999 di Australia.